JAKARTA | DINAMIKABANTEN.ID – Kembang Mulia Racing (KMR), bengkel otomotif roda dua di Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mulai mengembangkan teknologi 3D printing untuk memproduksi socket dan berbagai produk aftermarket sesuai kebutuhan bengkel.
Langkah tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Program ini mengusung tema “Pemberdayaan Bengkel Otomotif Berbasis 3D Printing Socket Aftermarket dan Transformasi Manajemen Bengkel untuk Efisiensi Biaya dan Daya Saing Usaha di Kembang Mulia Racing (KMR)”.
Program didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kontrak induk ditetapkan pada 13 April 2026 dengan Nomor 167/C3/DT.05.00/PM/2026, sedangkan kontrak turunan ditetapkan pada 16 April 2026 dengan Nomor 8/UN39.14/C3/DT.05.00/PKM/2026.
Kebutuhan Produk Aftermarket Mendorong Produksi Mandiri
Kebutuhan terhadap socket dan adapter khusus menjadi salah satu alasan KMR mengembangkan kemampuan produksi mandiri. Dalam pekerjaan bengkel, sejumlah produk aftermarket membutuhkan waktu pengadaan yang relatif lama. Biaya juga dapat menjadi lebih tinggi karena produk tertentu hanya tersedia dalam satu set, sementara bengkel terkadang hanya membutuhkan satu komponen.
Selain itu, terdapat produk dan alat tertentu yang tidak diproduksi atau tidak tersedia secara khusus dari pabrikan. Kondisi tersebut membuat bengkel membutuhkan alternatif yang dapat dibuat sesuai kebutuhan.
Dokumen program mencatat bahwa sekitar 60–70% pekerjaan bengkel membutuhkan socket atau alat khusus. Dalam 12 bulan, terdapat 126 unit socket yang rusak atau harus diganti dengan biaya pengadaan sekitar Rp35 juta per tahun. Socket komersial juga membutuhkan waktu pengadaan sekitar 3–7 hari. Beberapa socket sensor dan adapter tertentu bahkan lebih sulit diperoleh.
“Dalam satu bulan pasti ada socket yang rusak atau tidak sesuai, terutama untuk sensor dan CVT. Kalau harus beli terus, biaya besar dan kadang pekerjaan tertunda karena alat belum datang.” — Zainal Kholik, A.Md., pemilik Kembang Mulia Racing.
3D Printing Menjadi Alternatif Produksi Cepat dan Efisien
Teknologi 3D printing memberikan alternatif bagi KMR untuk memproduksi socket secara on-demand. Bengkel tidak harus selalu membeli produk dalam bentuk satu set. Produk dapat dirancang dan dicetak berdasarkan kebutuhan aktual di lapangan.
Dalam perhitungan awal produksi, kebutuhan material menjadi salah satu komponen biaya yang relatif mudah dikendalikan. Dengan estimasi sekitar Rp900–Rp1.000 per gram, penggunaan material dapat disesuaikan dengan desain produk.
Sebagai contoh, uji coba pembuatan socket ECU sepeda motor dengan berat sekitar 5,4 grammenghasilkan kebutuhan material sekitar Rp5.400 jika menggunakan asumsi Rp1.000 per gram. Perhitungan tersebut menunjukkan peluang efisiensi biaya sekaligus menyediakan alternatif produksi yang lebih cepat ketika komponen aftermarket sulit diperoleh.
Namun, efisiensi material tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kualitas produk hasil 3D printing harus memenuhi kebutuhan penggunaan di bengkel. Karena itu, proses produksi perlu memperhatikan jenis dan karakteristik material filamen, kecepatan pencetakan, persentase infill, waktu pencetakan, resolusi, serta kemampuan dan kekuatan mesin 3D printing.
“Banyak pekerjaan kelistrikan butuh socket atau adapter khusus yang sebenarnya bisa dibuat sendiri kalau ada teknologinya.” — Zaini Muhtarom, mekanik Kembang Mulia Racing.
Dari Desain Digital hingga Uji Fungsi
Penerapan teknologi dilakukan melalui beberapa tahapan. Tim bersama mitra mengidentifikasi kebutuhan, melakukan pengukuran, reverse engineering, membuat desain CAD, melakukan slicing, mencetak produk, melakukan post-processing, memeriksa dimensi, melakukan fitting, dan menguji fungsi produk.
Pendampingan tidak hanya diarahkan agar mekanik mampu mengoperasikan mesin. Mekanik juga diperkenalkan pada hubungan antara kebutuhan servis, desain digital, parameter pencetakan, pemilihan material, dan kualitas produk.
Hasil implementasi membentuk kemampuan produksi mandiri sekitar 2–4 socket per hari sesuai kebutuhan. Produk yang dikembangkan mencakup socket untuk pekerjaan sensor, CVT, serta adapter atau socket khusus untuk pekerjaan kelistrikan. Tim juga menyiapkan library desain CAD/STL sehingga desain yang telah dibuat dapat digunakan kembali ketika bengkel membutuhkan bentuk atau ukuran tertentu.
Tidak Sekadar Mengganti Socket yang Rusak
Pengembangan 3D printing di KMR tidak diarahkan hanya untuk menggantikan socket yang rusak. Teknologi ini dikembangkan sebagai bagian dari strategi produksi aftermarket berbasis kebutuhan.
Ke depan, produk yang berhasil dikembangkan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal bengkel. KMR juga berpeluang memproduksi socket dan produk aftermarket untuk komunitas otomotif serta memasarkannya melalui marketplace.
Model tersebut membuka peluang baru bagi bengkel untuk mengubah kebutuhan teknis menjadi produk bernilai ekonomi. Produk dapat dibuat dalam jumlah kecil sesuai permintaan, dikembangkan berdasarkan kebutuhan komunitas, kemudian diperluas melalui pemasaran digital.
Dalam pengembangan teknologi, KMR diarahkan untuk membangun library desain socket yang terus bertambah, meningkatkan konsistensi kualitas hasil cetak, dan mengembangkan produksi socket custom sesuai kebutuhan pasar. Teknologi 3D printing diharapkan berkembang dari sekadar alat pengganti socket rusak menjadi bagian dari layanan dan potensi produk baru bengkel.
Teknologi Produksi Berjalan Bersama Transformasi Manajemen
Pengembangan teknologi juga diikuti dengan penguatan manajemen usaha. Tim PkM mendampingi KMR dalam pencatatan pemasukan dan pengeluaran harian, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pengelolaan arus kas, penyusunan laporan laba-rugi sederhana, serta penyusunan SOP pengelolaan usaha.
Noprita Herari, M.I.Kom., yang menangani dokumentasi, komunikasi kegiatan, dan kebutuhan administrasi program, menekankan pentingnya menjadikan sistem pengelolaan sebagai bagian dari operasional harian bengkel.
“Transformasi manajemen harus dimulai dari proses yang sederhana dan dapat dilakukan setiap hari. Ketika transaksi, biaya produksi, penggunaan alat, dan alur kerja tercatat, pemilik bengkel memiliki data untuk mengevaluasi usaha dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.” — Noprita Herari, M.I.Kom.
Pendekatan teknologi dan manajemen tersebut menggunakan Participatory Action Research (PAR)dan co-creation. Mitra dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, penetapan prioritas, pelatihan, produksi, penerapan pembukuan, penataan alat, hingga monitoring dan evaluasi.
Dari Kebutuhan Bengkel Menuju Produk Komunitas
Pengembangan 3D printing memberikan arah baru bagi KMR. Bengkel tidak hanya menjadi pengguna produk aftermarket, tetapi mulai memiliki kemampuan untuk merancang dan memproduksi komponen sesuai kebutuhan.
Ke depan, KMR diarahkan untuk memperluas library desain, meningkatkan konsistensi kualitas produk, dan mengembangkan socket custom berdasarkan kebutuhan pasar. Produk yang telah melalui pengujian dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bengkel sendiri, komunitas otomotif, maupun konsumen melalui marketplace.
Langkah tersebut tetap membutuhkan pengembangan teknologi. Untuk menghasilkan produk yang semakin mendekati kebutuhan dan kualitas produk pabrikan, KMR perlu terus mengoptimalkan material filamen, parameter pencetakan, desain, kekuatan mesin, serta proses pengujian produk.
Dengan demikian, 3D printing tidak hanya menjadi teknologi untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan bengkel. Teknologi ini dapat menjadi instrumen produksi yang membantu KMR mengurangi ketergantungan terhadap produk aftermarket tertentu, mengendalikan biaya, mempercepat pemenuhan kebutuhan, dan membuka peluang usaha baru.
Dosen dan Mahasiswa Membangun Solusi Bersama Mitra
Program ini dilaksanakan oleh tim dosen UNJ yang terdiri atas Dr. Ir. Muhammad Nurtanto, M.Pd. selaku ketua pelaksana, bersama Miftah Al Hafidz, M.Pd. dan Noprita Herari, M.I.Kom.
Mahasiswa yang terlibat antara lain Agung Prabowo Sudarwan, Dessy Loren Burunaung, Aidil Syah Rizky Akbari, M. Thoriqi Alfi, Syaidah Seprinal, Nayla Andina, dan Annisa Diva Fadilah. Dari pihak mitra, kegiatan melibatkanZainal Kholik, A.Md., bersama mekanik KMR sebagai pengguna langsung teknologi dan sistem manajemen.
Program PkM ini dilaksanakan di Kembang Mulia Racing (KMR), Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, pada tahun 2026 melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
CATATAN REDAKSI: Ditulis oleh Muhammad Nurtanto dan Tim Pelaksana PkM Universitas Negeri Jakarta, 2026.







More Stories
33 Peserta Terbaik OMI Kota Serang Resmi Melaju ke Tingkat Provinsi Banten
Prestasi Gemilang, Dua Siswi MTsN 1 Serang Lolos ke Tingkat Provinsi dalam Ajang OMI 2026
BOS Rp1,1 Juta Masih Kurang? MTsN 1 Kota Serang Patok Rp3,5 Juta per Siswa, APH Didesak Turun Tangan