Oleh : Muhammad Hamka Wijaya
Bagian 1 (Bersambung)
Masalah sampah menjadi tantangan utama bagi Kota Serang, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang meningkat. Sebagai ibu kota Provinsi Banten, kota ini menghasilkan rata-rata lebih dari 400–500 ton sampah per hari, yang sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan kapasitas yang semakin terbatas, serta masih banyak yang dibuang sembarangan ke selokan, sungai, atau ruang publik, sehingga memicu pencemaran lingkungan, risiko banjir, dan masalah kesehatan masyarakat. Sejak tahun 2019, Pemerintah Kota Serang mulai gencar menerapkan program Bank Sampah sebagai solusi strategis, dan hingga tahun 2025 telah berkembang menjadi lebih dari 80 unit yang tersebar di kelurahan, perumahan, hingga sekolah, mengubah pola pengelolaan dari sekadar “kumpul–angkut–buang” menjadi sistem berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat . Artikel ini membahas pengaruh nyata bank sampah dalam mengatasi masalah sampah di Kota Serang, mulai dari pengurangan volume, perubahan perilaku, hingga dampak ekonomi dan lingkungan.
- Mengurangi Beban Sampah dan Memperpanjang Umur TPA
Pengaruh paling langsung dan terukur adalah penurunan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang menunjukkan, pada tahun 2024–2025 saja, jaringan bank sampah berhasil mengelola dan mengalihkan sekitar 182–200 ton sampah per tahun agar tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir . Sampah yang dipilah dan dikumpulkan di sini sebagian besar adalah jenis anorganik bernilai jual: plastik, kertas, kardus, logam, kaca, dan limbah kemasan, yang kemudian dijual ke pengepul atau industri daur ulang, serta sampah organik yang diolah menjadi pupuk atau pakan maggot .
Meskipun persentasenya sekitar 3–5% dari total timbulan sampah kota, angka ini sangat berarti karena mengurangi tekanan pada TPA yang kini sudah beroperasi mendekati batas kapasitas. Semakin banyak bank sampah yang aktif, semakin besar volume sampah yang diserap, sehingga umur pakai fasilitas pembuangan akhir bisa diperpanjang dan biaya operasional pengangkutan sampah oleh pemerintah pun berkurang secara bertahap. Di beberapa wilayah seperti Kelurahan Unyur dan Curug, keberadaan bank sampah berhasil menurunkan tumpukan sampah liar hingga lebih dari 60%, karena warga sudah memiliki tempat resmi dan bermanfaat untuk menyalurkan sampah mereka .
- Mengubah Perilaku Masyarakat: Dari Membuang ke Memilah
Masalah utama sampah di kota ini selama bertahun-tahun adalah rendahnya kesadaran memilah sampah dari sumbernya, sehingga sampah tercampur sulit didaur ulang dan bernilai rendah. Bank sampah hadir dengan konsep insentif ekonomi, yang menjadi pendorong paling efektif mengubah kebiasaan. Warga yang menjadi nasabah wajib memilah sampah rumah tangga, dan setiap kilogram sampah yang disetor akan dicatat sebagai tabungan, yang bisa dicairkan menjadi uang tunai, ditukar dengan sembako, token listrik, atau kebutuhan lainnya .
Hasilnya sangat nyata: antusiasme masyarakat meningkat dari sekitar 30% di tahun 2020 menjadi lebih dari 65% pada tahun 2025, dengan ribuan nasabah aktif dari kalangan ibu rumah tangga, pemuda, hingga pelajar . Di sekolah-sekolah seperti SDN 5 Banjarsari, program bank sampah yang baru diterapkan membuat siswa terbiasa memilah sampah dan memiliki tabungan sendiri, rata-rata Rp20.000–Rp30.000 per bulan, sekaligus membawa pemahaman ini ke lingkungan rumah masing-masing . Edukasi yang dilakukan pengurus bank sampah juga membuat warga paham dampak sampah bagi lingkungan, sehingga budaya “membuang sembarangan” perlahan hilang diganti kebiasaan menjaga kebersihan dan memilah.
- Memberikan Nilai Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat
Bank sampah tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga mengubah persepsi bahwa sampah adalah “barang buangan tak berguna” menjadi sumber pendapatan. Di Kota Serang, harga jual sampah bervariasi dari Rp2.000 hingga Rp8.500 per kilogram tergantung jenis dan kerapian pemilahan, sehingga warga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan. Sebagai contoh, satu bank sampah yaitu Bank Sampah Cipta Lestari 30 (BSCL30) di RW 30 Unyur mengumpulkan rata-rata 200 kg sampah setiap dua minggu, dengan nilai transaksi mencapai jutaan rupiah per bulan, yang dibagikan kepada nasabah dan digunakan untuk kegiatan sosial lingkungan .
Selain itu, program ini juga membuka lapangan kerja baru: pengurus bank sampah, tenaga pemilah, hingga pengrajin yang mengolah sampah menjadi produk bernilai jual seperti kerajinan tangan, tas belanja, atau perabot. Di beberapa tempat, pengelolaan sampah organik diubah menjadi pupuk atau pakan ternak yang dijual kembali, menciptakan rantai ekonomi baru berbasis lingkungan . Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, manfaat ini sangat terasa, sekaligus menjaga keberlanjutan program karena masyarakat sendiri yang merasakan keuntungannya.
- Mendukung Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Pencemaran
Penerapan bank sampah di Kota Serang merupakan langkah nyata menuju ekonomi sirkular, di mana sampah tidak berakhir di pembuangan, melainkan dikembalikan ke siklus produksi. Sampah plastik dicacah dan dijadikan bahan baku baru, kertas dan kardus didaur ulang kembali, dan sampah organik dikembalikan ke tanah sebagai nutrisi. Hal ini sangat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru serta menekan emisi karbon dari proses produksi dan pembakaran sampah.
Dampak lingkungan lain yang terlihat jelas: berkurangnya sampah yang masuk ke sungai-sungai di Kota Serang seperti Sungai Cibanten dan Cikande, sehingga risiko banjir saat musim hujan menurun, dan kualitas air serta udara menjadi lebih bersih karena praktik pembakaran sampah liar semakin jarang ditemui. Kawasan yang dulunya sering menjadi tempat penumpukan sampah kini berubah menjadi bersih, asri, dan nyaman ditinggali.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun dampaknya sangat positif, bank sampah di Kota Serang masih memiliki tantangan. Pertama, jangkauan belum merata: masih banyak wilayah pinggiran dan desa yang belum memiliki akses. Kedua, kesadaran masyarakat belum 100% dan masih ada yang belum paham cara kerja bank sampah. Ketiga, dukungan sarana dan prasarana serta kemitraan dengan industri pengolah sampah masih perlu diperluas agar harga jual sampah lebih stabil dan pengelolaan lebih efisien.
Kesimpulan
Bank sampah telah terbukti menjadi solusi yang sangat efektif dan menyeluruh dalam penyelesaian masalah sampah di Kota Serang. Pengaruhnya tidak hanya mengurangi volume sampah dan beban TPA, tetapi lebih jauh lagi mengubah perilaku masyarakat, menciptakan nilai ekonomi, dan menjaga kelestarian lingkungan. Keberhasilannya menunjukkan bahwa masalah sampah bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, tetapi bisa diselesaikan bersama jika masyarakat dilibatkan dan diberikan manfaat nyata.
Ke depan, dengan rencana pemkot memperluas ke seluruh wilayah, mengembangkan sistem digital, dan memperkuat kemitraan, bank sampah akan menjadi pilar utama mewujudkan visi Kota Serang Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan, bebas dari masalah sampah yang selama ini membebani. (*)
Tentang Penulis :
Bersama rekan-rekannya, saat ini ia aktif dalam pengelola Bank Sampah di Perumahan Banten Indah Permai, RW 30, Kelurahan Unyur Kec Serang, Kota Serang.







More Stories
KAJIAN DAN ANALISIS APBD KOTA SERANG 2026: ANTARA OPTIMISME TARGET PAD DAN REALITAS FISKAL DAERAH
Kembali Pimpin Organisasi, Dede Enoh Sujana Terpilih dalam Muskot Ke-V Perbakin Kota Serang
MTsN 1 Ciruas Ukir Prestasi Gemilang: Dari Juara LKBB Nasional Hingga Tembus Sekolah Bergengsi