SERANG, BANTEN — Penanganan stunting, pelaksanaan program Bangga Kencana, hingga inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) memerlukan lebih dari sekadar kebijakan di atas kertas. Di Provinsi Banten, lompatan besar justru terjadi berkat strategi “keroyokan” yang mengolaborasikan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah.
Untuk membedah strategi di balik layar, Pimpinan Redaksi Ade Gunawan berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Plt. Kepala Perwakilan KemendukBangga Provinsi Banten, Yuda Ganda Putra, di ruang kerjanya pada Kamis, 11 Juni 2026. Keduanya membahas secara mendalam bagaimana keterbatasan anggaran justru memicu inovasi kemitraan yang masif di Tanah Jawara.
Berikut petikan wawancaranya:
Keterbatasan Anggaran dan Lahirnya Kemitraan Strategis
Ade Gunawan (AG): Bapak Yuda, program Bangga Kencana dan pencegahan stunting ini cakupannya sangat luas, sementara kita tahu anggaran pemerintah selalu memiliki keterbatasan. Bagaimana KemendukBangga Banten menyiasati hal ini?
Yuda Ganda Putra (YGP): Betul sekali, Mas Ade. Keterbatasan anggaran pemerintah memang menjadi tantangan utama. Solusi kami adalah membangun kemitraan strategis dengan pihak ketiga karena kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami menggandeng organisasi sosial, lembaga amal, media, hingga asosiasi profesi untuk menambah modalitas program.
Contoh konkretnya, kami bermitra dengan Qolamul Umron Indonesia untuk pendampingan dan perbaikan kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS). Kemudian ada Baznas yang turut menyalurkan bantuan. Dari sisi publikasi, kami sangat terbantu oleh rekan-rekan media dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan IWO (Ikatan Wartawan Online) yang membantu menyebarkan Informasi dan Edukasi (KIE) tanpa membebani anggaran kami. Pola gotong royong ini terbukti sangat efektif mengurangi beban pemerintah sekaligus memperluas jangkauan intervensi.
Ujung Tombak Nutrisi: Dedikasi Luar Biasa Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
AG: Terkait intervensi langsung ke keluarga, saya dengar Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mengambil porsi yang sangat besar. Bisa diceritakan peran spesifik mereka?
YGP: IBI adalah salah satu pahlawan utama kita di lapangan. Tenaga kesehatan profesional seperti bidan sangat efektif karena mereka bersentuhan langsung dalam melakukan KIE, memberikan pelayanan KB, dan mendistribusikan nutrisi.
Yang luar biasa, setiap ranting IBI di Banten saat ini diwajibkan untuk mengasuh minimal 10 keluarga berisiko stunting (KRS). Mereka tidak hanya mendampingi, tetapi juga memberikan nutrisi berkelanjutan selama 6 bulan penuh. Coba bayangkan jika kontribusi ini dikapitalisasi menjadi nilai finansial—angkanya pasti sangat fantastis. Dedikasi IBI ini berskala besar dan berdampak langsung dalam menyelamatkan generasi kita dari ancaman stunting.
Dukungan Pemda: Capaian MBG Melonjak Tajam
AG: Bagaimana dengan sinergi bersama Pemerintah Daerah? Apakah Pemda di Banten sudah menjadikan ini sebagai prioritas?
YGP: Peran Gubernur dan jajaran Pemda sangat menentukan, dan kami sangat bersyukur atas dukungan mereka. Sesuai undang-undang, Bangga Kencana ini merupakan urusan wajib non-dasar, sehingga Pemda bertindak sebagai pelaksana utama di daerah.
Dukungan nyata terlihat dari fasilitasi konsolidasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), monitoring langsung bersama Tim Penggerak PKK, hingga masuknya KemendukBangga ke dalam SK Satgas Daerah. Hasil kolaborasi provinsi dan pusat ini sangat terukur:
Capaian Program MBG 3B di Banten:
- Capaian Awal: 24%
- Capaian Saat Ini: 80,6%
Lonjakan drastis ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi yang kuat membuahkan hasil yang konkret.
Pasukan Akar Rumput: Menggerakkan Puluhan Ribu Kader
AG: Angka 80,6% itu butuh eksekusi lapangan yang masif. Berapa banyak sebenarnya kekuatan SDM yang KemendukBangga Banten kerahkan di tingkat desa?
YGP: Mesin penggerak kami adalah kombinasi antara personel struktural dan nonstruktural. Kekuatan di tingkat akar rumput kami meliputi:
| Jenis Kader/Petugas | Jumlah Personel |
|---|---|
| Penyuluh Struktural (Komandan Wilayah) | 234 orang |
| Kader Pendamping Keluarga | 24.420 orang |
| Kader Remaja | 2 orang per desa/kelurahan |
| Cakupan Wilayah | 1.552 desa/kelurahan |
Tugas mereka sangat mulia sekaligus berat: mendampingi calon pengantin (catin), ibu hamil (bumil), ibu menyusui, memantau balita, melakukan edukasi langsung, hingga mendistribusikan paket MBG 3B. Jaringan akar rumput inilah yang memastikan tidak ada keluarga yang terlewat dari pantauan.
Harapan ke Depan: Anggaran yang Mengikuti Fungsi
AG: Sebagai penutup, apa harapan terbesar Bapak untuk keberlanjutan program-program krusial ini ke depannya?
YGP: Harapan terbesar kami adalah penerapan prinsip “money follows program” (anggaran mengikuti program dan fungsi). Keberlanjutan intervensi ini sangat bergantung pada dukungan pembiayaan yang stabil, baik dari APBN maupun APBD.
Kami akan terus melakukan advokasi anggaran dan mengintensifkan koordinasi dengan Pemerintah Daerah. Jika komitmen anggaran dari pusat dan daerah terus selaras, saya yakin target-target prioritas untuk menciptakan generasi Banten yang unggul dan bebas stunting bisa segera kita capai secara paripurna. Terlebih, ini menjadi tugas besar kami di Banten sebagai pembantu Pak Menteri Wihaji dalam menjalankan program-program prioritas KemendukBangga. (*)







More Stories
Mengenal Goyandi Dwi Amar: Sosok di Balik Layar yang Jaga Komitmen Layanan 24 Jam BPN Cilegon
EKSKLUSIF: Menakar Kesiapan BPN Cilegon Menuju Kota Lengkap dan Transformasi Pelayanan Tanpa Hambatan
Dikritik Soal Anggaran Alun-Alun Rp48 M, Walikota Serang Tanggapi Aktivis: Penanganan Banjir Tetap Berjalan